Berita  

Usai Beritakan Kebun Sawit di Sekitar Embung, Wartawan di Bangka Selatan Diteror Akun Palsu

banner 120x600

ZN, TOBOALI – Seorang wartawan media daring di Kabupaten Bangka Selatan menjadi sasaran intimidasi setelah memberitakan keberadaan kebun sawit yang tumbuh di sekitar embung sawah Desa Pergam, Kecamatan Airgegas. Ancaman itu datang dari akun media sosial palsu yang meninggalkan komentar bernada menyeramkan di unggahan wartawan tersebut.

Dalam komentar yang ditulis akun palsu itu, terdapat kalimat bernuansa ancaman dan intimidasi psikologis yang bahkan menyinggung hal-hal berbau mistis. “Tandai bro wartawan ni jangan bae gi ke Pergam, bila perlu ajak ngopi dulu sikit, nek ningok agik mujarab dak jampik dukun abok duluk e,” tulis akun tersebut.

Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, kalimat itu bermakna: “Tandai wartawan ini kalau dia nanti pergi ke Desa Pergam. Kalau perlu ajak dia ngopi dulu, mau lihat masih mujarab tidak mantra dukun kakek dulu.”

Komentar tersebut diduga dimaksudkan untuk menimbulkan rasa takut dan mengintimidasi wartawan agar tidak lagi memberitakan konflik kebun sawit di wilayah tersebut. Akun itu juga menggunakan foto profil wartawan yang bersangkutan, mempertegas kesan ancaman personal.

Wartawan yang menjadi korban sempat mencoba merespons dengan mengajak akun tersebut bertemu secara langsung. Namun, setelah itu akun tersebut menghilang tanpa jejak.

Kuat dugaan, akun palsu tersebut memiliki keterkaitan dengan kelompok yang selama ini dikenal vokal menuding pihak lain merusak kawasan resapan air di sekitar Sungai Kemis. Dugaan ini muncul karena kebun sawit yang menjadi sorotan warga diduga milik salah satu anggota kelompok tersebut, dan komentar intimidatif muncul tidak lama setelah video liputan wartawan diunggah.

Peristiwa ini terjadi di tengah memanasnya konflik agraria di Desa Pergam. Warga menyoroti keberadaan kebun sawit yang tumbuh subur di area dekat embung penampungan air sawah, yang menjadi sumber utama pengairan bagi Desa Pergam dan Serdang.

Dalam verifikasi lapangan yang dilakukan Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial (PKS) Kabupaten Bangka Selatan, sejumlah warga mendesak pemerintah daerah untuk segera bertindak tegas terhadap keberadaan kebun sawit tersebut.

“Sawit yang ada di dekat embung itu tolong ditindak. Negara sudah keluar banyak uang membangun embung untuk pengairan sawah. Tapi kalau di sekitarnya masih ada sawit, percuma dibangun, Pak,” ujar salah seorang warga dalam forum tersebut.

Warga juga meminta agar pemerintah menetapkan seluruh kawasan rawa-rawa dan daerah sekitar embung sebagai wilayah resapan air yang dilindungi.

“Di embung itu jelas-jelas ada sawit tumbuh subur, dan jaraknya hanya beberapa meter dari sumber air. Kami minta segera ditetapkan sebagai kawasan resapan air,” tegas warga lainnya.

Ironisnya, kelompok yang selama ini paling vokal menuding pihak lain merusak lingkungan justru diduga memiliki kebun sawit di area yang sama. Dugaan itu semakin menguatkan asumsi bahwa ancaman akun palsu terhadap wartawan merupakan bentuk tekanan dari pihak yang merasa terganggu oleh pemberitaan tersebut.

Kasus ini menambah panjang daftar ancaman terhadap jurnalis di lapangan, terutama mereka yang meliput isu lingkungan dan konflik agraria di daerah.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak-pihak terkait masih berupaya dikonfirmasi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *